Showing posts with label My Life Story. Show all posts
Showing posts with label My Life Story. Show all posts

02 November 2012

Thanks to ...

Aku mau cerita “sesuatu”

Semuanya mengingatkan ku pada satu pilihan yang pernah ku tunjuk, ku lalui dan akupun tersenyum.., kadang tertawa, cemberut, bersedih lalu menangis. Maybe you watching me stand alone! Tapi aku punya Allah untuk berbagi. Ok fine!

Aku menemukan banyak jenis manusia, mulai dari anak petani sampai anak mentri. Para doktor lulusan kampus “antah berantah” sampai lulusan harvard. Di kuliahi dan Bertemu langsung dengan wajah-wajah pejabat negeri ini yang dahulu hanya aku liat dalam kotak mati bernama televisi. Berpapasan dengan nama-nama yang tak asing di infotainment!

Bertemu makhluk lembut dari sunda, berbicara blak-blakan dengan para betawi itu. Ikut-ikutan meddo’ dengan mahasiswa dari jawa. Roaming di pekanbaru, dan terdampar di stasiun gambir!

Lalu menghabiskan siang hingga senja di pustaka dengan manusia-manusia serius pemburu sekolah. Menikmati hapalan qur’an di puncak bersama dingin yang merasuk masuk. Berjalan bersama bentangan sayap malaikat ke majelis ilmu yang begitu jauh dari kotaku. Kecewa sesaat di depan kedutaaan amerika. Merenungi diri di atas kereta dan busway sumpek. Mengitari kebun teh di Lembang. Berteman dengan sapi-sapi penghasil susu di pangalangen. Merasakan bandrek hangat di pinggir jalan ditengah hujan kota bandung. Mencicipi coklat eropa dan maccaroni panggang. Berjalan di tempat kumuh sampai ke mall-mall ternama di Jekardah. Melihat sesuatu yang berbeda dari kotak dunia ku,...

Bertemu banyak wajah. Semuanya, segalanya.. membuat aku merasa aku ini betul-betul masih ujung kuku dibandingkan mereka.

Baiklah...setiap kita punya style dalam hidup. Ada yang slow, rock ada juga yang ngepop!
Eh, ini ga’ ada hubungannya dengan musik,. Tapi Whatever... diantara manusia-manusia yang pernah ku temui itu...

Hari ini, Aku cuma mau bilang ke manusia-manusia spesial, yaitu para pedagang asongan yang berpeluh-peluh di kereta bogor-jakarta “heeey, terimakasih, karena kalian mengajarkan aku apa itu usaha keras”

Aku cuma mau bilang ke anak jalanan ibu kota “thanks, kalian mengajarkan aku tentang syukur”

Aku cuma mau bilang ke bapak tua pemulung di dekat kampus “Pak, hampir tiap hari aku selalu memerhatikanmu, tak sadarkah kau??”

Aku cuma mau bilang ke diriku sendiri, ayoo bersyukurlah yang berlipat-lipat, jangan terlalu menengadahkan kepalamu ke atas sebab itu adalah hal yang melelahkan, bersyukurlah karena keadaan mu hari ini jauh lebih baik daripada pedagang asongan, anak jalanan ibu kota dan bapak tua pemulung di dekat kampus itu!

*enjoyourpoplife, yeyy!!

-Kota daeng, 2 November 2012-

Read more »»  

21 April 2011

Kuriositas dan Cinta


Tidak sederhana. Banyak yang bertanya bagaimana dengan studimu. Saya hanya tersenyum simpul sambil berkata “Alhamdulilah”. Banyak faktor mengapa saya merasa bahwa ini tidak sederhana. Yang pertama karena institusi ini punya reputasi yang baik di skala nasional maupun dunia. Sehingga metode pembelajarannya pun cukup jauh melampaui Kampus saya sebelumnya. Suatu kali teman saya berkata bahwa beberapa kampus di luar lebih mudah daripada disini. Betul saja, Sampai tataran dosen pun ada yang transfer perkuliahan ke padjajaran dan brawijaya untuk program s3.

Yang membuat saya semakin yakin bahwa ini tidak sederhana adalah di akhir semester satu, ada 3 orang teman saya yang harus Drop out karena tak bisa mencapai IP yang ditargetkan. Untung saya selamat.

Semester dua, kegiatan perkuliahan cukup berat. Selain itu, beberapa orang diantara kami sudah harus mempersiapkan proposal penelitian. Termasuk saya.

Saya terlihat lebih repot daripada yang lain, karena saya bukan berasal dari kampus ini. Sehingga butuh waktu untuk beradaptasi dengan metode pembelajaran serta materi-materinya yang tidak mudah.

Siang ini, The Last minute perkuliahan metode riset dan bisnis, saya sudah gusar. Sepertinya keluar dari kelas ini wajah saya akan seperti benang kusut. Beberapa kali saya mengusap wajah sambil menarik nafas yang lebih panjang. Penjelasan dosen tadi membuat saya terbangun, karena saya termasuk orang yang tidak 100 persen memperhatikan penelitian. Saya kemudian terbangun dan Self talk bahwa “tidak ada waktu lagi. Now, I Have to focus on my research” -titik.

Baru menyadari bahwa sebentar lagi, yah… sisa menghitung hari kami harus mempresentasikan proposal riset kami. Padahal, saya masih belum bisa mencintai topik penelitian saya. Beberapa hari ini saya sama sekali tidak punya motivasi untuk menyentuh bahan riset. Sudah banyak jurnal internasional yang saya dapatkan yang terkait dengan topic saya itu. Tapi sayang, semuanya hanya menumpuk di file2 laptop! Saya Tak punya gairah.

Saya mencoba membaca diri dan mengambil kesimpulan bahwa “Saya gak disitu” hati saya tidak pada topik penelitian tersebut. Maka saya pun mencoba bertanya pada hati, saya mendapat jawaban, bahwa saya lebih antusias dan termotivasi dengan topik Y dari pada topik sebelumnya. Tidak ada waktu lagi. Saya harus memutuskan hari ini juga.

Selepas makan siang. Saya mengadap ke ketua Magister Sains Agribisnis untuk berkonsultasi.

Assalamu alaykum, Permisi bu’ mengganggu” , “oh iya masuk masuk gak papa”. Dosen saya mempersilahkan duduk dan meyakinkan saya bahwa jangan sungkan-sungkan untuk berkonsultasi. Saya pun membuka pembicaraan kemudian berkata, “Punten Bu’, saya mau konsultasi sedikit mengenai topic penelitian, sebelumnya saya sudah buat literature review untuk meneliti X, tetapi akhir-akhir ini saya sangat tidak bersemangat dan kuriositas saya lebih besar ke topic lain, saya akui bahwa awalnya saya mengambil topic X hanya karena saya lebih mudah mendapatkan beasiswa penelitian dan litearturnya pun banyak, tetapi, saya setengah hati bu’”


Dosen saya pun berifikir sambil memerhatikan seisi ruangan, “Saya ingin ke topik Y”, Saya kemudian menggambarkan sedikit tentang topic Y dan menjelaskan mengapa saya memilih topic tersebut. Intinya “kuriositas” (rasa ingin tahu).

“wah, Menarik menarik, saya rasa bagus sekali, karena masih sangat jarang penelitian seperti itu. Di departemen kita saja belum ada. Saya rasa ini Novelty (sesuatu yang baru)”, Dosen saya sangat antusias, bahkan lebih antusias dari pada saya. Saya pun sangat senang dan tersenyum sambil memutar otak.

“Ia bu’ tapi permasalahannya, saya belum menemukan inti dari apa yang mau saya teliti. Saya belum bisa mengerucutkannya”

Dosen saya memberikan penjelasan terkait topik tersebut, dan alhamdulilah kepala saya sudah mulai terbuka.

_Sueerr,! ini hanya berlandaskan kuriositas dan rasa penasaran “kira-kira di Indonesia jika model tersebut diterapkan pada agribisnis, efektif gak yah?” hanya itu yang ada di benak saya_

“Tapi bu’, Literatur dan jurnal mengenai topic ini masih sangat terbatas. Karena ini termasuk hal yang masih baru di Indonesia”

“Betul, karena memang di Indoensia belum begitu banyak akademisi yang mengkaji ini”
tambah dosen saya.

Hmmm, kalau begitu. Saya harus bersiap-siap untuk banyak membaca literature-literatur dari luar. Wah, sedangkan di Perpustakaan, literatur tersebut sangat minim. Di satu sisi saya sangat senang karena dosen saya antusias tetapi disisi lain nafas saya jadi tersengal karena ini adalah pertanda bahwa “sebentar lagi kamu akan menjadi penghuni setia perpus MMA dan sebentar lagi nasibmu akan seperti jangkrik-jangkrik di samping kamar mu, siap-siap moccacino!”.

Dosen saya melanjutkan, “Sebetulnya saya mulai tertarik dengan topik ini, waktu kamu menjelaskan saat presentase. Karena ini topik yang baru kalau diaplikasikan diagribisnis, Novelty. Kita sudah terlalu ketinggalan dengan negara-negara luar yang mana model ini sudah dikembangkan di sana. Itulah mengapa saya mau kamu menulis jurnal dan meng-combine-nya dengan topic lain. Karena di kalangan akademisi juga perlu tahu bahwa kita harus membuka mata terhadap perkembangan yang ada”

“Ia bu, tapi untuk sekarang ini saya belum bisa, karena semester ini tugasnya lumayan berat. Insya Allah setelah UAS bu’ saya akan mencoba menuliskannya kembali”

“oh ia gak papa, gak papa. Jadi dengan topic ini kita bisa menyadarkan orang-orang bahwa Halloooo kita sudah ketinggalan dengan negara lain”
Melihat ekspresinya, saya jadi kaget ternyata dosen saya ini gaul juga walaupun sudah punya cucu.

“Ia bu’ dan seakan-akan Indonesia masih saja tidur dengan perubahan ini, belum terbangun”. “Ia betul makanya kita harus wake up”.


Di akhir konsultasi saya kemudian meminta diberi masukan, siapa saja yang bisa menjadi dosen pembimbing saya, “Saya bisa” kata dosen saya. Wah senangnya. “Ia bu, memang saya berharap ibulah yang menjadi dosen pembimbing saya”. Tetapi saya masih mencari satu dosen pembimbing lagi.

Saya lalu pamit undur, pada saat menutup pintu tak henti-hentinya saya tersenyum dan bersyukur kepada Allah, Mudah-mudahan jalan ini dimudahkan, itu harapan saya.
Sadar, bahwa sebentar lagi adalah waktu yang melelahkan, karena akan di isi dengan perjalanan mencari ilmu yang harus di tuangkan pada lembar-lembar kertas bernama tesis. Tidak boleh sembarangan, Harus mendekati SEMPURNA, titik lagi.

Konsultasi yang menyegarkan , setidaknya hati dan pikiran saya kembali merekah mengenai riset. Jujur, Dari sini kemudian saya mengambil beberapa pelajaran : Bahwa “Kuriositas yang besarlah yang mampu menggerakkan. Jika kita meneliti, tetapi topik tersebut tidak begitu “ngeh” di hati tentu kita akan berjalan setengah-setengah.

Pilihan hati mampu menjadikan yang sulit bisa jadi mudah kalau pilihan kita memang betul-betul sesuai dengan apa yang kita inginkan dan sesuai dengan ketertarikan kita.
Pelajaran yang lain bahwa berdiskusi dengan orang yang kapabel adalah salah satu jalan untuk memecah kebuntuan. Itulah mengapa dalam islam selain istikhorah, juga ada isytisyaroh (memusyawarahkan). Kedua hal tersebut tidak hanya terkait masalah jodoh, tetapi terkait mengenai beberapa hal.

Selain Kuriositas, Cintalah yang mampu menggerakkan kita. Itulah mengapa sebelumnya saya tidak begitu tergerak untuk mengerjakan proposal, permasalahannya ada pada Cinta, saya kurang mencintai topic X. Namun untuk topik ini memang sebelumnya saya sudah “hit it off” alias cinta pada pandangan pertama.

Mencintai apa yang kita lakukan akan mendahsyatkan kemampuan kita. Saat kita menatap penuh cinta dengan aktivitas belajar maka seluruh energy kita akan tertuju padanya. Saat itulah kemauan kita terbangun. Dan kemauan itulah yang menggerakkan. Begitulah, cinta menggerakkan kita untuk produktif.

Kesimpulannya bahwa, Kuriositas dan Cintalah tersangka utama dalam menggerakkan kita untuk melangkah, seberat apapun perjalanan itu.

Belajarlah untuk mencintai tradisi-tradisi belajar, insya Allah kita akan mudah untuk menikmatinya.

“Berangkatlah kamu dalam keadaan merasa ringan atau berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu lebih bagimu jika kamu mengetahui” (At-Taubah : 41)

Imam An-Nawawi berkata “Jangan pernah meremehkan ilmu dalam bidang apapun”

*Perjalanan pulang dari kampus menuju kosan, saya menatap langit. Seolah-olah disana ada senyum dan seuntai kata, "Kamu pasti Bisa, Vee". Saya membalas senyum langit! :) "Apakah sudah saatnya?"

Wallahu a’lam

Bogor, 210411


Vee
__
“Kembali belajar untuk luruskan niat, Sekolah untuk ummat”

Hanya Allah yang menyaksikan semuanya, yang terlihat maupun yang tersembunyi di balik nurani. Mari melanjutkan Langkah!

Read more »»  

25 March 2011

Memoar tentang Hujan


Perjalanan pulang menuju rumah….Hujan!

Allohumma Shoyyiban Naafi’an.
Hujan lagi, masya Allah, Alhamdulillah Saya masih bisa menikmati air langit.
Entah kenapa saya ingin menikmati hujan, padahal biasanya baru gerimis saja saya sudah buru-buru lari. Tapi hari ini sy tidak akan menghindar, toh rumah tinggal beberapa meter lagi. Saya ingin hujan membasahi wajah saya, saya ingin hujan menyentuh tangan saya, saya ingin basah karena hujan. sejuk!

Ternyata air hujan tidak berbeda, dari dulu sama saja, Rasanya tidak asin atau manis. Tidak berasa. Pernah Coba???
Mandi hujan tetap menyenangkan.


Hujan mengingatkan saya ketika masih kanak-kanak. Jika langit mulai mendung disusul gelegar guntur para ibu mulai mengoceh, karena tanda alam itu mengisyaratkan bahwa cucian mereka terlambat mengering, disudut lain para ayah dan orang dewasa pun kesal karena tak bisa ke kantor atau keluar rumah untuk beraktivitas. Di saat yang bersamaan daeng penjajah es putar akan sedih, karena jualannya bakal tak laris. Tetapi bagi kami, saya dan tema-teman inilah saatnya kami berpesta. party, horeeeeeeeeeeee. Pesta hujan!!!!!! Hujaaaan..hujaaan.hujaaaaan. horeeeeeee hujan.

Jika hujan benar-benar datang. Maka kami saling bersahutan, saling mengajak. Ayo mandi hujan. Yang tak diijinkan orangtuanya hanya akan melongo dibalik jendela seraya memandangi kami yang sedang berpesta. Kebetulan saya adalah anak yang sering dilarang mandi hujan. Nanti sakit ! Itu alasan ibu saya. Oleh karena itu saya biasaya tak pernah ijin, langsung saja keluar. Toh jika meminta, tak diijinkan juga yah langsung saja mandi, dimarahi??? Urusan belakangan.

Itulah kami, anak-anak yang selalu menikmati hujan. Anak-anak memang terkadang lebih pandai bersyukur. Seharusnya orang dewasa belajar menikmati hujan. Bersyukur itu sudah cukup. Tak usah keluarkan kekecawaan karena mungkin hujan telah mengalangi aktivitas kita, Nikmati saja. Betul-betul manusia memang kurang bersyukur.


_Kota Daeng, Awal tahun 2010_

***
…Menikmati malam di kota hujan sambil memosting tulisan usang ini..


Read more »»  

02 March 2011

Perempuan Tionghoa (Ling Sui Nio)


Masih teringat guratan di wajahnya saat ia sedang marah, senang, tertawa atau sekedar menatap tanpa tahu ujungnya di mana. Di awal-awal kepergiannya, saya selalu membuka lemari itu untuk mengambil sepotong daster, menciuminya… masih ada baunya. Bau khas perempuan tiong hoa.

Perempuan berkulit kuning dan bermata sipit.
Ia sempat hidup pada zaman penajajahan. Seorang saksi sejarah “Romusha” dan bom-bom jepang. Pernah bersembunyi di ruang bawah tanah, sekali terkena bom tapi ia selamat. Entah apa yang dipikirkannya. Setelah ditinggal mati suaminya yang juga seorang tionghoa, ia kemudian menikah lagi dengan seorang pribumi bugis. Mengapa harus dengan seorang pribumi?
Dasar cina! Memantong itu cina! Tanja’ na eh cina aspal! Cina Loleng! Ganyangi cinayya! Itu adalah kalimat-kalimat yang masih sempat saya dengar sekitar tahun 1998 saat melewati kerumunan tukang becak yang mangkal di depan toko-toko cina, ataupun anak-anak kecil yang habis membeli es cream di toko cina. Barangkali tidak mudah hidup dengan penampakan seperti itu. bertahan sebagai kaum minoritas. Mungkin untuk cari amannya, ia memilih pribumi bugis.


Perempuan yang punya dua nama.
Ling sui nio. Ia adalah ibu dari ibuku. Seorang perempuan berayah dan ber ibu tionghoa. Entah berasal dari cina dataran mana. Yang jelas sebelum kemerdekaan ia sudah menempati bumi pertiwi.
Nenekku seorang gadis tionghoa yang cantik, anak tunggal! Ia tak punya saudara, hanya punya seorang saudara sepupu yang juga anak tunggal. Seorang gadis cina! Saya memanggilnya “Toai” (sebutan untuk saudara/sepupu nenek kita). Jika nenek sedang berbicara sesama kerabat cinanya, kata-kata yang paling sering saya dengar adalah “Oeeh, oeeh” artinya “ia, ia”


Seorang perempuan yang suka mengumpulkan giok.
Saya lebih banyak tidur bersama nenek, dengan kasur yang sangat-sangat bersih dan wangi ciri khas nenek. Sebelum tidur, ia tak pernah mendongeng tentang sinderella dan pangeran, atau tentang putri salju dan 7 kurcaci. Ia menceritrakan kepada saya tentang masa penjajahan jepang dan G 30S, jadilah saya belajar sejarah sebelum tidur. Hemm, saya pernah bertanya bagaimana awal pertemuannya dengan kakek? Haha, apa yah jawabnya waktu itu? … (lupa’!) Kau tau, nenek lebih sering memanggil saya dengan panggilan putri (baca : putiri), bukan fitri. Hahaha. Itulah nenek, tak pernah memanggil nama saya dengan sempurna.

Seorang tionghoa yang bercitarasa lokal.
Kemana-mana ia selalu memakai kebaya yang dipadukan sutera atau batik. Ia selalu menasehati kami untuk tidak banyak bergaul dengan lawan jenis. Pernah suatu malam, kakak membawa beberapa temannya (laki-laki dan perempuan) ke depan rumah. Mereka ngobrol sambil tertawa, karena ribut dan sudah larut tanpa tangung-tanggung nenek mengambil segayung air dan mengguyur mereka dari teras lantai 2 rumah kami,Byuuurrr Hemm, rasain!

Mengapa orang cina identik dengan toko kelontong?
Ling sui nio juga seperti itu, sewaktu masih tinggal di rumah sendiri, ia memiliki toko kelontong. Sebuah streotipe yang masih bercokol di benak orang banyak “orang cina itu gila uang!”. Entahlah, tapi yang jelas nenek tidak seperi itu, meskipun sempat memiliki toko tetapi ia bukan penganut kapitalisme. Dalam istilah marketing, ia seorang yang suka “share of wallet”, Yang suka menyelipkan uang ke saku cucunya secara diam-diam, Yang punya “sense of charity”. Tidak tahan melihat orang lain susah. Ling sui nio, seorang yang dermawan.

Ling Sui Nio yang berparas Mongol.
Pernah ada yang bilang kepada saya. “wei, kenapa ko tidak putih, tidak pesek, kurang sipit!”, “Ingat yah, ayah ku orang makassar, wueekkk :P” Gen itu tak turun kepada saya. Sempat saya iri dengan sepupuku, karena ia sedikit berparas cina. Kulit kuning, mata sipit, tapi hidungnya mancung. Persis artis-artis mandarin. (Sirik!)
Paras cina turun ke beberapa ponakan saya kulit kuning, mata sipit, rambut lurus, tapi pesek! Mereka sering di anggap orang cina oleh teman-temannya padahal, Makassar banget!...

Suatu waktu ada kerabat nenek yang meninggal, kami (saya, ibu dan tante) pergi melayat. Kami ke sana dengan pakaian yang serba putih. Pulangnya kami membawa kue, jeruk dan buah-buahan lainnya. Mayatnya dipakaikan jas, dasi, seperti pengantin pria. Iihh, serem juga saya melihatnya. Kulihat tanteku mengambil dupa lalu “bersembahyang”, ibu tidak melakukannya. Alhamdulillah, setelah kami semua paham dien, kami sudah tidak pernah lagi menghadiri acara-acara seperti itu. Bahkan, kami sudah tidak pernah berkumpul dengan kerabat kami yang berasal dari nenek. mereka semua sudah hijrah ke surabaya. Dan, saya pun sudah kehilangan jejak mereka.

Imlek, selalu mengingatkan saya pada nenek dan kerabat-kerabat berkulit kuning, bermata sipit yang suka makan jeruk. 

"Ya Allah, ampunilah dosa-dosa nenekku, lapangkanlah kuburnya dan kumpulkanlah kami kembali di jannah Mu kelak, amiin"

_Sebenarnya, Masih banyak yang ingin ku pelajari dari perempuan tionghoa itu_


*Imlek tak sepatutnya di rayakan oleh kaum muslimin walaupun mereka seorang tionghoa. Namun, disini saya hanya teringat kenangan nenek saya saja

Di selesaikan pada Maret 2011.


Vee
Read more »»  

06 December 2010

Geli, Sah!!



...

Kembali berkutat dengan dunia perkuliahan memang menyenangkan, karena bagi saya belajar adalah hal yang terlalu menyenangkan di dunia ini. Mengerti hal-hal baru membuat hidup saya lebih bermakna, apalagi jika hal itu berguna untuk banyak orang.

Ke sana kemari mencari referensi, duduk berjam-jam di perpustakaan -sampai saya pernah diusir karena sudah lewat batas kunjungan-, searching, berkunjung dari satu web ke web lainnya adalah hal yang menghiasi hari-hari saya. Jika dapat nilai bagus, bukan main senangnya. Tetapi, Bosan juga saya dengan buku-buku kuliah, jurnal-jurnal ilmiah dan catatan-catatan kuliah.

Saya pernah bilang pada salah satu teman kelas saya, “Mba’ waktu S1 saya gak rajin begini loh. Saya lebih banyak membaca buku-buku dan majalah islami ketimbang text book kuliah. Terkadanag, Saya lebih suka mendatangi majelis ilmu daripada mendengar kuliah dosen. Tapi alhamdulillah Nilai-nilai saya tidak jelek. Aneh kan mba’?” haha.


Saya yakin, kecerdasan itu tidak melulu didapatkan dari lamanya kita duduk membolak-balik text book. Tetapi kecerdasan itu bisa juga kita dapatkan, karena seringnya kita menggunakan otak kita untuk memahami dan menganalisis hal-hal yang baru. Om Dr. Arnold Scheibel dalam penelitiannya di UCLA tentang Otak mengatakan, “kegiatan-kegiatan yang tidak biasa adalah teman otak yang terbaik”. Jadi bagi para mahasiswa, jangan belajar melulu, carilah hal yang berbeda dari kebiasaan kita. Kunjungilah majelis-majelis ilmu. Bacalah kisah para sahabat dan ulama salaf. It’s Novelty.

Dua bulan terakhir ini, ada sesuatu yang berbeda. bukannya saya jenuh, melainkan saya tidak tenang, di tambah atmosfer kesepian yang melanda kesendirian saya (sendiri karena membawa misi yang berbeda). Saya Gelisah!, Entah apa yang membuat saya seperti itu. berkali-kali saya mencari jawaban, mengapa saya gelisah? Mengapa saya merasa ada yang hilang?


Sampai suatu waktu, saya mendapat sebuah sms dari seorang akhwat, beliau meminta saya untuk tiiiiiit (secret), dari sms itu saya ngebatin “saya harus menyemangati diri sendiri, saya harus mencari motivasi, saya harus membangun diri saya sendiri”.

Selepas sholat isya dan tadarrus, mata saya tertuju pada deretan rak buku, saya lalu mengambil satu buku yang berjudul Mencetak Kader, perjalanan Ustadz Abdullah Said pendiri Hidayatullah karya Manshur Salbu Rahimahullah. Itu adalah buku pemberian kakak saya beberapa bulan yang lalu. Sengaja saya bawa, karena buku itu belum selesai saya baca dan banyak hikmah di dalamnya. Selain itu, Saya juga nge-fans sama penulisnya (alhamdulillah beberapa tahun lalu saya pernah bertandang ke rumahnya. Beliau Sangat-sangat bersahaja, makanya saya langsung jatuh cintrong! eits, jangan suudzon, beliau sudah punya banyak cucu) Sudah lumayan lama saya tak membaca buku-buku penyemangat dakwah, dan…betapa senangnya saya ketika kembali membaca buku tersebut.

Kembali pada perasaan saya, Ada sesuatu yang berbeda. ada sesuatu yang hilang, apa itu ?

Setelah membaca beberapa lembar buku tersebut. Saya mendapat jawabannya. Rupanya, Saya kehilangan multivitamin ruh, Karena Saya kehilangan beberapa majelis2 dzikir yang biasa saya kunjungi. Saya kehilangan nasehat spirit dakwah. Saya kehilangan beberapa sosok sahabat yang Militan nan Sholehah. Halaqah yang hanya sekali sepekan dengan durasi yang minim ditambah perjalanan yang super duper jauh bin macet (bogor-jakarta) membuat saya masih haus dan gelisah. Maka saya butuh multivitamin tambahan. Banyak majelis disini, tetapi hati saya selalu rindu untuk menghadiri majelis yang se-manhaj.

Ada satu lagi yang sangat-sangat saya rindukan, yaitu majalah islami. Ada 2 majalah favorit saya (maaf yah sebut merek ding!) yaitu majalah Ar-Risalah dan Majalah Hidayatullah. Ar-Risalah seperti air yang menyirami hati saya, sehingga kembali segar dan benih-benih keimanan serasa tumbuh. Sedangkan majalah hidayatullah, membantu saya memahami apa yang terbaru dalam dunia islam saat ini, kedua majalah tersebut sulit saya dapatkan di tempat ini. Saya rindu dengan mereka. Saya mau cari mereka ahhhh…

Kembali berkumpul dengan keluarga juga merupakan hal yang paling saya nantikan. Bercengkrama dan berbagai cerita dengan orang tua adalah hal yang menggembirakan. Mereka adalah pendengar setia , mereka selalu menyemangati saya, memberikan support dan tentunya Doa. Saya selalu membayang-bayangkan wajah ayah dan ibu saya di ujung telepon. Merekalah orang yang paling setia menuggui saya. Mereka pulalah yang selalu mencintai saya, Baik saya sedang berada di atas atau dibawah. Baik saya sedang bersinar atau sudah mulai redup, cinta mereka tak pernah pupus dimakan waktu. Satu cita-cita saya yang belum tercapai, pergi umrah bertiga dengan ayah dan ibu. Serasa ingin pulang ke rumah! Sekali lagi, Saya Gelisah, ingin bertemu dengan mereka.. I wanna Back to my Home.

Tetapi, Belum saatnya saya pulang ke rumah. Karena masih ada “kontrak” belajar disini. Ada satu hal yang membuat saya harus terus melanjutkan perjuangan akademik saya, yaitu MIMPI (Jika ada yang mengatakan saya terlalu banyak bermimpi, biarlah…I). Mimpi untuk menjadi ilmuwan Mujaddid, mimpi untuk turut berkontribusi dalam perkembangan ummat, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan. Meskipun mimpi itu harus di raih dengan kerja keras, karena saya tidak secerdas orang “kesedikitan” (lawan dari kebanyakan), jika otak itu punya kelas, maka saya temasuk orang yang berada di kelas rata-rata. Hehe.
Akhirnya, kesabaran lah kunci kegelisahan itu. Sabar untuk tetap bertahan di kota Hujan, bersyukur dan belajar dari setiap perjalan hidup hari ini, menikmati setiap pencapain kecil mimpi-mimpi saya. Sabar untuk menjadi Ghuroba’ di komunitas sendiri. Sabar untuk berkumpul kembali bersama keluarga dan saudara-saudara seiman di kota daeng. Sabar akan setiap kegelisahan yang mendera! Karena, … Innallaha Ma’ashobirin.


Suara dari Bogor, 5 Desember 2010

_di Tengah Kerumunan Text Book Ekonomi Manajerial_

Read more »»  

30 August 2010

Saya dan Sandal Jepit


Malam menyambut kedatangan saya dijakarta, dari bandara menuju rumah kerabat, saya melewati jalan tol, kampus trisakti, tarumanegara, dan beberapa bangunan terkenal lainnya. memang jakarta lebih tenang dan ramah pada malam hari, tak ada macet tak ada kebisingsan.

Esoknya, saya dan 2 kerabat lainnya menuju ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa keperluan. Perjalanan kami cukup lama dan melelahkan karena harus beberapa kali sambung menyambung antara satu kopaja ke kopaja lainnya, ditambah kami harus berdiri jika tak dapat tempat duduk. Beberapa jam berjalan mengelilingi pusat perbelanjaan saya masih santai dan nyaman, namun pada jam ke tiga dan berikutnya kaki saya sudah pegal. Rupanya sepatu saya ini sudah tidak nyaman jika di ajak jalan terlalu lama. Saat ada di depan penjual sandal saya tidak berfikir lama, “bu’ sandalnya berapa?”. “15.000 mbak”. Tanpa menawar saya ambil saja sandal itu.

Saatnya kaki saya merdeka. Nyaman, memakainya seperti tidak ada beban. Wah asyik juga, berjalan-jalan keliling mall pakai sandal jepit 15.000 an, merk converse (palsu tapinya hehehe). Salah satu kerabat saya nyeletuk, “Gile aja luh, jilbab udah oke, rok dan baju
pas, tasnya top abis, eh eh liat ke bawah make’ sandal jepit gituan, hahaha”. EGP!


Senang sekali bisa menggunakan sandal jepit kemana-mana, ringan, nyaman, perjalanan jadi menyenangkan (kayak travel aja…!) exited. Teringat di Makassar, saya sangat jarang menggunakan sandal jepit keluar rumah, mungkin karena saya selalu menggunakan kendaraan pribadi jadi jalan kakinya tidak terlalu banyak, tidak terasa uncomfortable nya. Tapi di jakarta, kemana-mana naik angkot, sekali-kali berjalan kaki, kecuali jika saya pergi bersama ibu saya biasanya saudara sepupu saya yang mengantar sampai tujuan.

Sampai di bogor, sandal jepit tersebut masih menemani saya kemana-mana. Tidak peduli, mau belanja ke warung, ke pusat perbelanjaan, ke terminal, ke kampus (kecuali saat kuliah dan ke perpustakaan) sandal jepit masih jadi andalan. Karena seringnya di gunakan, baru beberapa hari sandal tersebut sudah kelihatan berumur 1 tahun. Beberapa mata kadang melirik ke arah sandal jepit saya, tapi sekali lagi EGP, cuek aja!

Kosan saya dengan kampus memang sangat dekat, tapi cukup jauh dari perpustakaan dan rektorat, bisa dibayangkan saudara-saudara jika saya menggunakan sepatu tiap hari, kaki saya bisa lecet! Yang paling disayangkan adalah tidak ada angkot yang masuk kampus seperti di unhas, yang ada hanya becak itupun tidak boleh keluar dari lingkungan kampus. Mau naik ojek karena becek? “ hallooo, mending gue jalan ampe sandal jepit gue mampus dari pada naik ojek”.

Ada pengalaman lucu dan memalukan dengan sandal jepit saya. Ahahahaha (ketawa dulu ahhhh). Ba’da maghrib sesudah berbuka puasa, saya ke rumah ibu kos. Rupa-rupanya beliau sedang teraweh di masjid, beberapa menit saya berbincang-bincang dengan anaknya yang saya panggil teteh. Setelah itu saya langsung melanjutkan perjalan ke rumah kos adik-adik yang berasal dari makassar, kebetulan kosannya tidak terlalu jauh.

Sesampainya disana, saya makan malam bersama mereka (niatnya Cuma ingin mengembalikan charge tapi diajak makan, yah Alhamdulillah malam ini bisa makan gratis hehe). Pada saat saya mau pulang, saya mulai memakai sandal jepit, tapi yang kiri mana yah? Sepertinya tidak ada. Adik-adik sudah mulai heboh mencari-cari sandal jepit yang satunya. Heran, kok gak ada? Tidak ada jejak. “kak, jangan-jangan di bawa lari ama kucing” (kok bisa, walaupun gak pernah di cuci sandal saya gak bau-bau amat kok, masih harum seharum kaki saya) “kak, pake sandal jepit saya aja duluh, besok ku cariin”. Mau tidak mau saya harus pulang karena jalan sudah mulai sunyi, untung saya bawa senter.

Saya tidak terlalu nyaman menggunakan sandal jepit adik tersebut, walaupun modelnya lebih bagus dan kelihatannya jauh lebih mahal daripada sandal saya. Sebelum masuk ke kosan, saya berniat untuk sekali lagi singgah ke rumah ibu kos. Beberapa menit saya berbincang-bincang saya lalu pamit pulang. Belum juga melangkah ke pintu pagar, saya terheran-heran dan berbicara dalam hati, “Loh, aneh! kok ada sandal yang mirip sandal saya disini. Mirip sekali, tapi kok yang ada Cuma sebelah kiri. Masa’ sih ada sandal jepit yang sama persis”. Letak sandal jepit hitam tersebut bersebelahan dengan sandal jepit kartun berwarna putih, kontras. Jangan-jangan, jangan-jangan saya tadi salah pake sandal? Ternyata, tadi waktu pertama kali keluar dari rumah ibu kos saya salah pakai sandal, sebelahnya warna hitam sebelahnya warna putih. Malu! Baru kali ini saya melihat ibu kos saya tertawa terbahak-bahak sampai tak bisa mengendalikan diri. Ckckckckck,,,Malu aku malu pada semut merah yang berbaris di dinding, eits kok jadi nyanyi yah….

Sandal jepit baru yang tua sebelum waktunya, sandal yang favorit, yang membuat saya nyaman kemana-mana, yang mengajarkan saya bahwa model gak penting yang penting kenyamanan. Sangat senang rasanya menjadi apa adanya. Seperti sandal jepit saya, yang biasa-biasa saja.

Read more »»  

24 November 2009

Jangan Pernah Khianati Cita-citamu

Di sebuah rumah hijau, sebelum pulang kerumah saya menyempatkan ngobrol dengan seorang ukhti. Dia senior saya dalam berbagai hal, senior di kampus maupun dalam dakwah dan tarbiyah. Kami selalu nyambung Kalau ngobrol, karakter kami sedikit ada persamaan…ngaak suka yang terlalu serius. kalau kami ngobrol dan ngak heboh, bisa dipastikan hal yang kami bicarakan SUPER DUPER ZERIUZ!!!,…

Hari itu, kami ngobrol tentang cita-cita. Saya menuturkan keinginan-keinginan saya, saya mau begini dan begitu. Berbagai kendala saya menuju cita-cita tersebut juga saya tuturkan. Sampai satu pernyataan keluar dari mulut saya yang intinya saya menyerah dengan cita-cita saya dan beralih ke jalan kesuksesan lainnya. Maka ukhti tersebut menutup obrolan kami dengan closing yang zeriuz, “dek, apapun yang ingin kau lakukan, lakukanlah. Tapi satu pesan saya, …..jangan pernah khianati cita-citamu”. Saya tertegun. Dalam perjalan menuju ke rumah, closing itu terus mengiang-ngiang.




Walaupun saya tidak pernah belajar ilmu psikologi, waktu itu wajah sang senior menyiratkan kesedihan dan kekecewaan. Sedih dengan jalan yang ia tapaki, jalan yang bukan pilihannya. Jalan yang terpaksa ia ambil. mungkin ia ingin berkata “mohon, jangan seperti saya”.

menurut saya sukses itu relatif . Boleh jadi kita melihat orang sukses, tapi dia sendiri belum merasa sukses. Sukses meraih cita-cita…ketika ia diraih dengan ridho Allah Subhanahu wa ta’ala. Sukses tidak hanya di tandai dengan berlimpahnya materi. Tetapi sukses adalah mengerjakan sesuatu yang membuat kita menghargai diri sendiri. Jadi walaupun secara materi kesuksesan kita kecil tetapi jika kita merasa menghargai diri kita karena pekerjaan tersebut, Maka kita sukses.

Obrolan 25 menit yang memberikan banyak pelajaran, yang menguatkan cita-cita. Apaun cita-cita kita raihlah, jangan pernah menyerah, Jangan selingkuh !! Dan yang terpenting selalu utamakan Ridho Allah.

Read more »»  

19 October 2009

Tentang Pernikahan


Ada yang seru dalam tarbiyah saya pekan ini. karena waktunya Family Day maka kami tidak mendapatkan materi aqidah atau fikih yang biasanya murabbiyah saya ajarkan. Tetapi pekan ini waktunya kami berbicara tentang pernikahan. Mengapa ??? karena ada satu teman liqo saya yang akan menikah. Wah, seru juga ternyata…pembicaraan dimulai dari teman-teman liqo saya yang sudah menikah (ummahat). Mereka berbagi pengalaman mulai dari prosesi khitbah, walimah, sampai ketika mereka punya anak. Ternyata tantangan dan hambatan pra nikah tidak sedikit, mulai dari mahar (uang Pa naik), pekerjaan, keturunan, dan hijab. Semunya menjadi perdebatan pada masing-masing akhwat. Bahkan ada akhwat yang diancam akan diusir dari kampung halamannya jika prosesi walimahan dilaksanakan secara syar’i.Semua ummahat sangat bersemangat membagi ceritanya kepada kami yang masih bersendirian. Kami??… yah menjadi pendengar dan penanya setia, kadang-kadang kami senyum-senyum malu, tapi kadang-kadang kami juga kaget dengan cerita dan pesan-pesan mereka.


Banyak sekali pesan-pesan yang mereka titipkan untuk kami. Masing-masing ummahat punya inspiring words tentang pernikahan, diantaranya:

Ummu A : Jika ukhti menikah hanya karena cinta maka ukhti sedang membangun sebuah bangunan yang rapuh, tapi jika ukhti menikah karena ibadah maka ukhti sedang membangunan sebuah bangunan yang kokoh"

Ummu B : “seorang istri itu harus lebih banyak sabarnya”
_hemmm, subhanallah…..susahnya_

Ummu C : “Awalilah sebuah ibadah dengan sesuatu hal yang dicintai oleh Allah”

Ummu D : “harus pandai-pandai mendekati keluarga, supaya walimahannya sukses”

Ummu E : “siapa pun teman hidup kita nantinya, dia adalah manusia biasa yang punya kekurangan…jika engkau meninginkan suami seperti Rasulullah maka jadilah seorang Khadijah atau aisyah atau istri-istri Rasulullah yang lainnya, artinya tidak mungkin kan kita menyamai mereka, jadi…pahamilah dan mengerti dia karena kita juga punya kekurangan, juga harus diingat bahwa Pernikahan dilaksanakan karena ibadah dan perjuangan”

Saya sangat bersyukur tarbiyah saya pekan ini sedikit membuka pemahaman saya tentang pernikahan, jadi kita bisa prepare kan? Buat saya istri/suami adalah partner hidup kita, artinya ia akan bersama kita dalam satu tim work untuk menuju satu tujuan, Firdaus. Karena merupakan tim work kita harus saling mengisi, memahami, mengingatkan, dan memiliki satu misi supaya tujuan kita bisa tercapai. Kadang dalam team work ada perbedaan pendapat, nah disinilah peran Al-ilmu. Satu yang perlu disadari istri itu bukan pembantu, Rasulullah adalah sosok suami yang paling ideal dalam memperlakukan istri-istrinya, salah satu contohnya beliau tidak sungkan menjahit pakainnya sendiri.

Dari pembahasan tentang pernikahan tersebut saya baru tahu bahwa akan banyak masalah baru yang muncul saat kita sudah menikah. Oohhhh….begitu! masalahnya dipikiran saya tentang pernikahan antara akhwat dan ikhwah itu Indah, saling mendukung, romantis, sweet, dll. Tetapi ternyata…eh ternyata, tidak semua hari-hari pernikahan itu indah, tidak semua pasangan saling mendukung, tidak semua pasangan itu romantis dan sweet. Cerita tentang lika-liku pernikahan kadang membuat saya beristighfar, tidak menyangka bahwa masalah A, B, dan C boleh jadi hinggap dalam sebuah rumah tangga. Hem…Ngeri Juga mendengarnya. Tapi jangan takut menikah yah…karena itu adalah ibadah, penyempurna dien! Jika ada masalah ??? hadapi saja, karena walaupun kita tidak menikah masalah akan terus menemani hari-hari kita. Yang terpenting bagaimana menyikapi masalah tersebut. Dengan ilmu insya Allah semuanya akan baik-baik saja, bukankah masalah bisa mendewasakan, menjadi guru, membawa pahala jika bersabar dan menyadarkan? Family day yang menyenangkan…membuka sedikit tabir asam manis pernikahan.

13 Oktober 2009
Read more »»  

03 June 2009

GARA-GARA PRASANGKA


Beberapa hari yang lalu jantung saya mau copot. Niat menginstal notebook supaya virus jelek itu tidak menyembunyikan file-file saya…eh justru setelah diinstal ulang file itu lenyap tak tersisa Satupun,…andaikan saya tidak berada di pusat penjualan IT itu, mungkin saya sudah teriak. Ah…kesal. ‘ala kulli hal. Semuanya sudah terjadi, insYAllah ada hikmahnya…tapi tetap, saya belum bisa menerima kenyataan itu. Bayangkan!!! SEMUA file-fle saya mulai jaman SMA, laporan-laporan dari semester satu sampai tujuh, LPJ, naskah, gambar dan semuanya LENYAP. PROPOSAL SKRIPSI ????? plus berkas-berkas seminar, tak ada yang tersisa. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Pusing saya.

Back up data sih ada, tapi itu file-file setahun lalu. Sedangkan file-file baru dan –seingat saya- proposal penelitian belum sampat saya back up. Tapi untungnya hard filenya masih ada. Ya Allah berikan saya kekuatan untuk tetap berdiri. Sewaktu di gerai IT tersebut, salah satu tekinisinya dengan penuh rasa tanggung jawab mencoba menghibur saya. “Gini mba’, kami punya program untuk menarik kembali data-data, kami akan usahakan mencoba menarik semuanya”..entah kenapa perasaan saya mengatakan sepertinya semua itu nggak berguna, paling-paling Cuma 10% yang kembali. Tapi biarlah namanya saja ikhtiar.

Besoknya saya kembali. Setelah menunggu beberapa menit, datanglah salah satu pengelola gerai IT tersebut. Entah kenapa, dari rumah saya selalu merasa sepertinya usaha ini nihil. Lima belas menit saya membuka semua file-file hasil penarikan program tersebut. Perasaan saya betul, malah hanya sekitar 1 % yang kembali itupun hanya beberapa dokumentasi KKN. Proposal penelitian??? Tetep, Lenyap. Enggan kembali. Yah sudahlah…mungkin memang saya harus kembali mengetik proposal itu semuanya. Tapi…45 halaman??? Subhanallah. Ah..insyAllah ada hikmahnya. satu-satunya yang menjadi pengobat hati saya adalah firman Allah “boleh jadi engkau menyukai sesuatu tapi ia tidak baik bagimu, dan boleh jadi engkau tidak menyukai sesuatu tapi itu baik bagimu”. Nah…ini yang membuat saya lebih tenang dan terhibur daripada program penarik data tersebut. Saya harus terima, dan…dengan senang hati saya sudah berlapang dada untuk ngetik ulang proposal tersebut. Lumayan!
Sesampai dirumah...saya langsung bersiap untuk mengetik ulang proposal yang lenyap tersebut. Setelah membuka notebook pandangan saya sibuk memperhatikan seisi kamar dan…berhentilah ia pada rentetan CD di atas sebelah kanan tempat tidur saya. Satu CD putih bertuliskan APPAS, Gender, dan transkrip nilai saya ambil dan mencoba membukanya. Setelah CDnya terbaca Tiba-tiba saja…Jreng….hah…ternyata isinya… PROPOSAL PENELITIAN, lengkap dengan resumenya. Alhamdulillah, saya langsung sujud syukur dan tak henti-hentinya memuji Allah plus tertawa bahagia. Saya ingat sekarang, Rupanya malam sebelum seminar proposal saya sempat mem-back up data tersebut. Hah…senangnya.

Hem…pengalaman,..setelah peristiwa menegangkan tersebut, saya mulai rajin mem-back up setiap file baru. Dan…ternyata disini prasangka juga berperan penting dalam setiap perkara. Semua kejadian tersebut sebenarnya berawal dari prasangka atau perasaan. Sebelum diinstal saya pernah membayangkan “sepertinya file-file saya akan hilang”. Ehh..ternyata betul.
Rasulullah bersabda, “Allah bersama Persangkaan hambanya”. jadi, jika kita ingin selalu mendapatkan yang baik-baik, berprasangka baiklah. Oce ????

Read more »»  

24 September 2008

STUDI GENDER DAN PEMBANGUNAN

Tidak terasa aku sudah hampir 3 tahun di kampus merah. padahal masih sangat segar diingatan ketika aku berpredikat MABA. Kini sudah banyak wajah-wajah baru yang menghiasi sosek pertanian, akupun merasa sudah amat tua. yang memanggil kakak jauh lebih banyak daripada yang menyapaku dengan panggilan De'. pergantian dari semester 1 ke 2 sampai semester 6 ke 7 sungguh amat sangat singkat terasa....
disemester 7 ini awalnya aku hanya memprogramkan 15 SKS (5 mata kuliah) karena memang sisa itu mata kuliah yang harus kuselesaikan. Namun seorang kakak memberi masukan agar aku mengambil satu mata kuliah pilihan lagi, agar jika suatu saat ada mata kuliah pilihanku tidak mendapat nilai A, aku dapat menggantinya. Sebenarnya aku tidak hanya berorientasi nilai, tapi Ilmu.


Mata kuliah pertama yang aku pilih adalah Psikologi pembelajaran , namun karena waktunya yang tidak sesuai dengan jadwal ku, dengan senang hati aku menggantinya dengan Studi Gender dan pembangunan.sebenarnya aku juga sedikit "alergi" dengan gender, sampai-sampai seorang ukhti kaget ketika aku mengambil mata kuliah tersebut. "Fit, banyak yang bertentangan dengan fikrah kita" itu salah satu komentar ukhti tersebut. Yah...aku tahu, Karena itu aku mengambil mata kuliah tersebut. Aku ingin itu apa sebenarnya Gender, selain itu rencana penelitian akhirku sedikit membahas mengenai perempuan.



Kuliah pertama, aku sudah dapatkan sedikit apa itu gender. kukira gender itu bericara mengenai perempuan saja, tetapi gender membicarakan mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan (gender relation Ship) yang implikasinya menggugat dan mempertahankan keseluruhan tatanan yang ada serta berusaha merubah ketimpangan gender yang ada. Jadi, Gender berbicara mengenai laki-laki dan perempuan.
Alhamdulillah, aku tarbiyah sejak 7 tahun yang lalu, sedikit banyaknya aku sudah terwarnai dengan islam, sehingga setiap materi kuliah aku selalu mengembalikan pada pandangan islam. Setiap kuliah keningku selalu berkerut, kepala terus berfikir, sedikit sesak dan Wallahi, baru kali ini aku ikut perkuliahan sampai membuat kepalaku sakit. Aku termasuk orang yang senang belajar, tapi...masya Allah, Bisa dibayangkan ketika apa yang aku terima tidak sesuai dengan hati nurani.

Aku selalu ingin berkomentar untuk meluruskan...TAPI, hatiku berbisik Belum saatnya. Yah,... belum saatnya. aku belum punya banyak ilmu untuk "menantang" seorang Professor yang ilmunya begitu luas. Namun kuharap suatu saat dengan aku mengambil mata kuliah ini aku bisa mematahkan argumen-argumen mereka agar orang-orang diluar sana tidak terhipnotis dengan pandangan tersebut.
dalam mata kuliah tersebut dibahas mengenai feminisme, emansipasi, dll. intinya persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Jika ada pemimpin laki-laki maka perempuan juga bisa jadi pemimpin. Perempuan bisa menjadi pencari nafkah utama dikeluarga. Perempuan menjadi tukang batu itu tidak salah, bahkan mereka justru sedikit bangga dengan banyaknya perempuan yang mengambil alih pekerjaan laki-laki. Padahal, Amat kasian perempuan yang bekerja sebagai tukang batu, Izzahnya sebagai Muslimah bisa turun. menurut pandangan tersebut yang menjadi kodrat hanyalah jenis kelamin, rahim, testis, dan segala hal-hal yang melekat secara kasat mata. sedangkan yang abstrak seperti kelembutan, itu bukan kodrat.Emmm,..pandangan ini juga diwarnai dengan paham sekuler...yang pasti ketika kita jauh menelaah pandangan ini akan ada banyak pertentangan di dalamnya.

Suatu kali dosenku memberikan kuis, sangat sesaknya aku ketika harus menjawab pertanyaan yang tidak sesuai dengan hati nurani. namun ketika aku menjawab menurut yang aku pahami, aku pasti akan salah semua.
sebenarnya Islam lebih dahulu mengajarkan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Justru Islam sangat adil, karena memperhatikan hal-hal yang melekat pada diri perempuan dari yang terlihat secara kasat mata sampai yang abstrak.
jadi...bagi penganut pandangan ini, coba pelajari Persamaan hak dalam islam, pasti engkau akan merasa takjub dan tidak terdzolimi.

Perkuliahan ini masih terus kulanjutkan dengan sebuah keinginan untuk mengetahui pandangan yang sekuler tersebut. Bukan untuk diamalkan namun untuk melihat titik kelemahan secara langsung sehingga dapat dijadikan bahan pelajaran.
Read more »»  

20 July 2008

Mimpi Terindah

Aku sering bermimpi dalam tidur. Kadang indah, kadang pula menyedihkan. Tapi! waktu itu ...subhanallah Aku memimpikan sebuah hal yang kucita-citakan. Sebelumnya memang aku pernah berucap doa kepada Allah Azza wa Jalla, Jika aku tak bisa ke sana untuk meraih kemuliaan, minimal aku bisa merasakan berada di sana lewat mimpi. Dan...tidak berapa lama hal itu terjadi. COba tebak sahabat...apa yang kuimpikan? salah...bukan itu, yang benar adalah "Negeri SYAHADAH" PALESTINA.
Aku merasa waktu itu aku tidak sedang bermimpi, seperti kenyataan.

saat itu Tiba-tiba saja aku berada di dalam sebuah tempat yang asing. aku mendengar dengan jelas letusan-letusan bom dan senjata yang terus-menerus berbunyi. Aku sangat kaget dan tersadar dalam mimpi bahwa sepertinya aku sedang berada di palestina.

Entah kenapa saat itu aku sangat senang dan...._ah! tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. kulihat waktu itu para muslimahnya berlari untuk mencari perlindungan sedangkan para mujahidin maju sambil melepaskan peluru. Mereka terlihat berani dan tak kenal takut, karena memang yang mereka cari adalah kematian, bukan kehidupan seperti apa yang diinginkan oleh tentara-tentara Israel. Sungguh pemandangan yang luar biasa. pemandangan terindah yang tak pernah kurasakan. Saat dimana kematian dengan membawa urusan Akhirat ada didepan mata. Saat dimana Kesyahidan akan menjemput. Namun, sayang mimpi itu tidak begitu lama kurasakan. Ia diakhiri dengan pangglian adzan yang berkumandang.

Ah... saat aku bangun mimpi tersebut masih teringat dengan jelas. Aku langsung tersenyum dan ah! lagi-lagi tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Yang jelas aku sangat bahagia, karena aku diizinkan oleh Allah Azza wa Jalla untuk merasakan berada dalam situasi yang sungguh mulia., Walaupun hanya dalam mimpi.

Hidup mulia atau mati syahid, Motto hidupku. Jika aku tak bisa meraih syahadah diTengah jihad Fisabilillah. Maka Izinkan aku ya Allah untuk meraihnya melalui sarana dakwah dan tarbiyah.
Read more »»  

09 June 2008

MAAF ! Prof. Radi, ada yang Terlupa...

Suasana Saat Kuliah terakhir "Perencanaan & Pembangunan Pertanian" sungguh berbeda. Biasanya dosen yang mengajar adalah pak Nas (Ir. Nazaruddin, LO, Msi)namun kali ini bukan beliau. Aku dan mungkin beberapa mahasiswa yang lainnya cukup kaget ketika pak Mursalim (Dekan) masuk ke kelas bersama beberapa pegawai. Masya Allah, ternyata ditengah-tengah mereka ada Pof.Dr. Ir. Radi A. Gani. (Penasehat Presiden). Beliau yang mengajar untuk kuliah terakhir tersebut. Uh... ini untuk pertamakalinya aku melihat mantan Rektor tersebut, kebetulan aku duduk dibangku depan sehingga setiap kata yang beliau keluarkan bisa kudengar baik. Prof radi mengajarkan berbagai hal menyangkut kebijakan pembangunan pertanian, tidak hanya itu beberapa filosofi hidup kudapatkan dari beliau, sedikit canda namun tak berlebihan sesekali menjadi bumbu dalam perkuliahan tersebut.


Sungguh, aku begitu kagum dengan beliau. Kagum karena ilmu yang beliau miliki.
diakhir perkuliahan beliau bertanya kepada seluruh mahasiswa, kira-kira waktu itu beliau mengatakan "Apa yang pertamakali harus dibenahi dalam diri rakyat Indonesia, agar bangsa ini bisa menjadi bangsa yang makmur dan dipandang oleh dunia?"
entah,,, mengapa semua mahasiswa yang ada di kelas tersebut diam. apa mereka Malu...takut...atau segan. Dengan spontan aku membisiki kawan yang ada disebelahkuw, tiba-tiba Prof Radi Menunjuk kepada ku, langsung saja kujawab, "Human Resources, dengan cara Meningkatkan Kualitas pendidikan (Education)"Kulihat Prof Radi tersenyum dan mengacungkan jempol plus kudengar ia berkata "Excelent", Ia kemudian meminta kepada semua mahasiswa untuk tepuk tangan (Padahal itu tidak perlu).

Setelah perkuliahan berakhir, ingin rasanya aku mengulang kejadian tersebut. Aku ingin berkata kepada PROF Radi bahwa, Bukan hanya education PROF, tapi ada satu hal yang lebih penting yaitu Kecerdasan Spiritual (Agama).
Memang, masih banyak rakyat Indonesia yang belum bisa mengecap pendidikan dengan baik, akan tetapi tidak sedikit juga rakyat Indonesia yang cerdas, bahkan mereka banyak alumnus Universitas ternama dalam dan luar Negri. namun... Coba lihat...kebanyakan dari mereka menggunakan kecerdasannya untuk menghancurkan diri sendiri dan bangsa ini. Para koruptor yang ada di pemerintahan mereka bukan lulusan SD atau smp, tapi mereka lulusan Perguruan Tinggi. begitupun Anggota dewan yang kOrupsi (Mencuri), melakukan perzinahan, dan berbagai macam maksiat. mereka bukan lulusan sekolah rendahan Prof

sebenarnya, pendidikan yang dikecap oleh sebagian rakyat indonesia sudah berkualitas. Namun, dari sisi Spiritualitas (agama) yang sepatutnya harus ditingkatkan. Jika ini sudah terlaksana, Insya Allah satu kondisi akan segera tercipta. Para Pemimpin akan lebih bijaksana, lebih adil, sholeh, dan tidak gila harta dan wanita. Rakyatnya akan makmur dan bahagia.
Orang-orang cerdas akan tahu ilmu tersebut akan digunakan untuk apa, dan jalan kemana. tentu saja ini akan tercipta jika agama bersinergi dengan ilmu. namun Jika agama hanya dimulut, hanya saat kampanye, hanya saat mencari perhatian rakyat, hanya untuk tuntutan duniawi, maka jangan pernah berharap Indonesia akan bisa lebih baik dari sekarang.

Mungkin Inilah produk yang dihasilkan oleh sistem pendidikan yang sekuler (yang memisahkan pendidikan dengan agama). di Sekolah Negri dan Beberapa Sekolah Swasta Pelajaran Agama Hanya satu kali sepekan itupun waktunya tidak sepanjang pelajaran Matematika atau BHS. Indonesia. DI Perguruan Tinggi lebih parah lagi, Pendidikan Agama Islam hanya pada Semester awal, Jika dilihat Pelajaran agama Disekolah maupun perguruan Tinggi hanya sekedar Formalitas belaka, terkadang jika kita belajar pend. agama islam disekolah atupun diperkuliahan, RUH nya tidak ada. hanya sampai dikepala namun tidak sampai ke hati. belum sempat Sang guru menjelaskan mengenai hari akhir, bel tanda pelajaran selesai telah berbunyi.

inilah produk sistem pendidikan yang sekuler....
Jadi untuk prof Radi A Gani, maaf prof ada yang terlupa... bukan hanya education tapi agama...
Read more »»  

26 March 2008

TOT

Subhanallah...tepatnya pada tanggal 21-24 maret aku mengikuti Training of trainer (TOT)LEmbaga muslimah DPP wahdah islamiyah. Dari kegiatan tersebut akoe mendapatkan banyak hal. mulai dari ukhuwah, hal-hal tentang dunia pelatihan, sampai info2 terbaru. pokoke pelatihan tersebut seru!!!!!! abis.
Read more »»